Jumat, 26 Maret 2010

Anggota DPD, Nurmawati Bantilan, "SULTIM PASTI TERWUJUD"

SULTIM telah masuk dalam 20 daerah yang telah disetujui untuk dibahas Pemerintah PUSAT dan RUU SULTIM ini telah berada dipusat sejak periode 2004-2009.

Penetapan Sulawesi Timur sebagai provinsi, tinggal menunggu keputusan dari presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, sesuai dengan janjinya sebelum dilantik menjadi presiden. Demikian diungkapkan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Nurmawati Dewi Bantilan, Senin (22/3) kepada media ini saat ditanya perkembangan persoalan tersebut disela acara pertemuan antara Pemprov Sulteng dengan Anggota DPD RI.
kata dia, Sultim dipastikan bakal terbentuk, sebab, selain sudah masuk dalam 20 daerah yang telah disetujui pemerintah pusat, berkas pembentukan sudah berada ditangan presiden. “Jadi sesuai janji presiden sebelum dilantik dulu, akan diproses kembali setelah beliau dilantik, karena persoalan ini sudah berada dipusat sejak periode 2004-2009 lalu,” ungkapnya.
Untuk itu, dia berharap agar masyarakat Sultim tidak membuat gerakan yang justru dapat menghambat proses ini. Seperti yang pernah terjadi di wilayah Morowali Utara dan Banggai Laut, yang sempat melakukan tanda tangan massal akan bergabung dengan Ternate Utara.
“Saya berharap masyarakat untuk bersabar, karena tinggal menunggu keputusan presiden saja. Kalau membuat gejolak seperti dulu, bisa-bisa cita-cita itu malah terhambat,” himbaunya(Sumber : Media Alkhairaat Online)

Kamis, 11 Maret 2010

Etos Kerja

MEREKA yang pernah mendaki Gunung Fuji layak disebut orang bijak. Namun, mereka yang mendaki untuk kedua kalinya layak disebut orang bodoh. (Rahasia Pepatah Jepang).

Fuji yang berketinggian 3.776 meter merupakan simbol bagi masyarakat Negeri Sakura. Gunung yang dikeramatkan orang Jepang yang berarti ”keabadaian” ini adalah simbol pembangkit semangat bagi masyarakat Jepang untuk terus berpikir kreatif, terlebih ketika keadaan kian mustahil. Inilah salah satu mengapa orang Jepang sukses menguasai dunia meski memiliki segunung kekurangan. Fakta itulah yang diungkapkan Ann Wan Seng dalam bukunya, Rahasia Bisnis Orang Jepang: Belajar dari Langkah Raksasa Sang Nippon Menguasai Dunia (terbitan 2006).

Dalam buku itu Wan Seng menggambarkan bagaimana orang Jepang yang berfisik kecil bisa mengalahkan mereka yang berasal dari Barat. Setelah bom atom Amerika menghunjam di jantung kota Jepang pada 1945, semua pakar ekonomi saat itu memastikan Jepang akan segera bangkrut. Namun, prediksi itu meleset. Dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun, Jepang mampu bangkit dan bahkan menyaingi perekonomian negara yang menyerangnya. Terbukti, pendapatan per kapita dan taraf hidup rakyat Jepang menempati posisi kedua tertinggi di dunia. Pada pertengahan era 1990-an, produk nasional bruto (PNB) Jepang mencapai USD37,5 miliar.

Angka tersebut sekaligus menempatkan posisi Jepang di belakang Swiss yang memiliki PNB tertinggi di dunia sebesar USD113,7 miliar. Selain itu, Jepang tidak memiliki utang luar negeri. Dalam pandangan orang Jepang, kekalahan dapat ditebus dengan kemenangan dan keberhasilan dalam bidang lain. Bangsa Jepang tidak pernah menyerah dengan segala kekurangan dan kelemahan. Meski memiliki sumber daya alam yang sedikit, gempa sering mengancam, orang Jepang berupaya menggunakan segala potensi yang ada untuk membangun negaranya agar sebanding dengan negara yang kaya dengan sumber alam.

Orang Jepang pandai menempatkan dan memanipulasi segala sumber yang ada sebaik mungkin. Bangsa Jepang cepat dan tanggap bertindak dan tidak menunggu peluang datang, tetapi mencari dan menciptakan sendiri peluang tersebut. Sejatinya, faktor utama kesuksesan bangsa Jepang terletak pada etos kerja, kreativitas, dan paradigma pantang menyerah. Bangsa Jepang dinilai rajin dan optimistis. Prinsip kesungguhan, disiplin ketat, usaha, dan semangat kerja keras (spirit bushido) rakyat Jepang diwariskan secara turun-temurun.

Kedisiplinan bangsa Jepang dikaitkan dengan harga diri (disiplin Samurai). Sejarah membuktikan, Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun di bawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika Restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Selain menjadi pengimpor minyak bumi, batu bara, biji besi dan kayu, sebanyak 85 persen sumber energi Jepang berasal dari negara lain, termasuk Indonesia.

Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, disusul dengan kalah perangnya Jepang, ditambah adanya gempa bumi besar di Tokyo. Namun, ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri automotif dan bahkan kereta cepat (shinkansen). Sebenarnya, etos dan budaya kerja orang Jepang tidak jauh beda dengan bangsa Asia lain seperti China dan Korea yang juga pekerja keras. Namun, mengapa bangsa Jepang lebih berhasil dan maju dibandingkan bangsa Asia lain?

Ternyata, orang Jepang sanggup berkorban dengan bekerja lembur tanpa mengharap bayaran. Mereka merasa lebih dihargai jika diberi tugas pekerjaan yang berat dan menantang. Bagi mereka, jika hasil produksi meningkat dan perusahaan mendapat keuntungan besar, otomatis mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal. Dalam pikiran dan jiwa mereka, hanya ada keinginan untuk melakukan pekerjaan sebaik mungkin dan mencurahkan seluruh komitmen pada pekerjaan. Pada 1960, rata-rata jam kerja pekerja Jepang adalah 2.450 jam/ tahun.

Pada 1992 jumlah itu menurun menjadi 2.017 jam/tahun. Namun, jam kerja itu masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata jam kerja di negara lain, misalnya Amerika Serikat (1.957 jam/tahun), Inggris (1.911 jam/tahun), Jerman (1.870 jam/tahun), dan Prancis (1.680 jam/tahun). Ukuran nilai dan status orang Jepang didasarkan pada disiplin kerja dan jumlah waktu yang dihabiskannya di tempat kerja. Di Jepang, orang yang pulang kerja lebih cepat selalu diberi berbagai stigma negatif, dianggap sebagai pekerja yang tidak penting, malas, dan tidak produktif.

Bahkan istri-istri orang Jepang lebih bangga bila suami mereka ”gila kerja” bukan ”kerja gila”. Sebab hal itu juga menjadi pertanda suatu status sosial yang tinggi. Untuk melancarkan urusan pekerjaan, orang Jepang memegang teguh prinsip tepat waktu dengan tertib dan disiplin. Kedua elemen itu menjadi dasar kemakmuran ekonomi yang dicapai Jepang sampai saat ini. Seperti pahlawan dalam cerita rakyat Jepang, si samurai buta Zatoichi, Jepang harus memastikan segala-galanya, termasuk rakyatnya, senantiasa bergerak cepat menghadapi perubahan di sekelilingnya.

Jika semuanya berhenti bergerak, ekonomi Jepang akan runtuh seperti Zatoichi yang luka dan mati karena gagal mempertahankan diri dari serangan musuh. Sebab ia tidak bergerak dan hanya dalam keadaan statis. Ketika para pekerja di negara-negara Barat mengalami penurunan produktivitas, di Jepang justru tampak prestasi yang menakjubkan. Pada 1975 misalnya, setiap sembilan hari seorang pekerja Jepang menghasilkan sebuah mobil seharga 1.000 poundsterling. Sementara pekerja di perusahaan Leyland Motors, Inggris, membutuhkan 47 hari untuk menghasilkan mobil dengan harga yang sama. Seorang pekerja di Jepang rata-rata dapat melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan enam sampai tujuh orang di negara lain.

Selain itu, budaya malu di Jepang juga menjadi faktor yang cukup menentukan keberhasilan. Malu adalah budaya leluhur dan turun-temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dalam pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena ”mengundurkan diri” bagi para pejabat yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugas. Orang Jepang juga memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian.

Sikap antikonsumerisme berlebihan ini tampak dalam berbagai bidang kehidupan. Banyak orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekira pukul 19.30. Sudah menjadi hal biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuh pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Di Jepang, supermarket rata-rata tutup pada pukul 20.00. Di samping itu, loyalitas membuat sistem karier di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Yang tak kalah penting dari budaya bangsa Jepang adalah membaca.

Di Jepang pada setiap densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Hal lain yang cukup menarik adalah hingga saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata ”tidak” apabila mendapat tawaran dari orang lain (Sumber : Okezone.com).

Selasa, 02 Maret 2010

FP3 yakin SULTIM akan "Goal" (TIDAK AKAN DIMORATORIUM).

Forum Perjuangan Pembentukan Provinsi (FP3) Sulawesi Timur (Sultim) optimistis bahwa pembentukkan Provinsi Sultim tidak akan dimoratorium sebab rancangan undang-undang pemekaran provinsi tersebut sudah masuk dalam agenda badan legislasi nasional DPR. Koordinator Wilayah FP3 Sultim Basri Sono mengatakan di Palu, Senin, sampai sejauh ini pihaknya belum mendapat kabar dari DPR RI bahwa pemekaran Sultim tersebut dimoratorium. "Kalau ada yang bilang moratorium silahkan saja, saya tidak mau memberi komentar. Yang pasti kami masih berpatokan pada keputusan DPR. Ini hak inisiatif DPR yang kami hargai," katanya. Menurut Basri Sono, Komisi II DPR telah mengajukan Rancangan Undang-Undang Prolegnas (program legislasi nasional) 2010-2014 ke Pimpinan Badan Legislasi DPR. RUU Provinsi Sultim katanya sudah menjadi prioritas Prolegnas. Daftar program tersebut juga disepakati oleh seluruh fraksi di DPR dan Kementrian Hukum dan HAM Patrialis Akbar.

Basri Sono mengatakan, Ketua Komisi II Burhanuddin Napitupulu pada 30 Oktober 2009 telah mengusulkan 11 RUU salah satunya adalah RUU pemekaran Sultim. "Moratorium itu hanya isu saja. Kami tetap memegang keputusan DPR. Kalau misalnya DPR yang memutuskan moratorium itu baru betul. Ini kan hak mereka untuk mengajukan RUU," kata Basri Sono. RUU pemekaran Sultim, kata dia, sudah masuk tiga periode anggota DPR namun belum juga tuntas. Periode 1999-2004 RUU tersebut kandas karena berbagai alasan. Begitu halnya pada periode DPR 2004-2009 juga belum sempat tuntas, masa periodenya sudah berakhir. Baru periode 2009-2014 ini kata Basri Sono, baru mulai ada titik terang dari RUU pemekaran Sultim tersebut. Dia mengatakan, kajian akademik tentang pemekaran Sultim sudah dimasukkan ke Komisi II DPR sejak tanggal 3 Desember 2007. Januari 2008 baru diparipurnakan sebagai RUU atas inisiatif DPR. "RUU Sultim masuk dalam paket 20. Artinya ada 20 paket RUU pemekaran, tujuh di antaranya provinsi dan selebihnya pemekaran kabupaten," kata Basri Sono. RUU Sultim, kata dia, satu paket dengan pemekaran Provinsi Kalimantan Utara, dua provinsi di Aceh, dan tiga di Papua. Pemekaran Sultim telah dideklarasikan 5 Januari 2000 di Palu. Sejumlah tokoh deklaratornya telah meninggal dunia antara lain Husni Toana (salah satu tokoh pers Sulteng). "Yang kami minta saat ini adalah peran kaukus di DPR untuk mendorong percepatan pengesahan RUU itu," katanya.

Dia mengatakan, seluruh kajian akademik pemekaran tersebut sudah tuntas termasuk cakupan daerah yang masuk dalam wilayah Sultim yakni Kabupaten Banggai, Banggai Kepulauan, Tojo Unauna dan Morowali, Morowali Utara dan Banggai Laut. Dua calon kabupaten lainnya yang saat ini sedang diproses pemekarannya adalah Morowali Utara dan Banggai Laut. "Kabupaten Poso tetap bersatu ke Sulawesi Tengah karena sesuai kesepakatan kalau Poso tidak jadi Ibu Kota Sultim mereka tidak mau bergabung," katanya. Masalah ini juga, kata dia, sudah masuk dalam RUU bahwa hanya ada empat kabupaten dan dua calon kabupaten lainnya. Dalam RUU juga sudah dimasukkan Ibu Kota Provinsi Sultim yakni Banggai (Sumber : Antara).